KesehatanUncategorized

Peran USG Toraks Dalam Diagnosa Pneumotoraks

PAKPAK BHARAT, PELITARAKYAT.com- Penjelasan dokter tentang dunia kesehatan yang di jelaskan oleh

Penulis : dr.Agnes Caroline,dr.Benni Barus, Sp.P

Pneumotoraks adalah akumulasi atau kumpulan udara yg menumpuk dalam rongga pleura (dinding tipis diantara rongga paru dan dinding dada).

Tekanan dari udara yang menumpuk tersebut dapat memicu pengempisan paru-paru hingga kolaps. Kondisi ini yang membuat Pneumotoraks menjadi sebuah kasus gawat darurat nafas karena dapat mengancam jiwa dan membutuhkan penanganan segera.

Iklan

Berdasarkan penyebabnya, Pneumotoraks diklasifikasikan menjadi 2, yaitu Pneumotoraks primer dan Pneumotoraks sekunder.

Pneumotoraks primer terjadi tanpa dipicu atau disebabkan oleh penyakit paru-paru, seperti merokok, bleb (kantung udara kecil di permukaan paru), trauma toraks (luka tembak atau luka tusuk), serta penggunaan alat bantu pernapasan (ventilator), sedangkan pada Pneumotoraks sekunder terjadi akibat komplikasi dari penyakit paru-paru lain, seperti Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), Tuberkulosis (TBC), Asma,dll.

Berdasarkan tingkat keparahannya, Pneumotoraks dibagi menjadi 3, yaitu:

1. Pneumotoraks sederhana, yaitu Pneumotoraks yang terjadi spontan tanpa adanya hubungan dengan udara luar atau mediastinum (rongga dada). Gambaran klinis yang nampak berupa sesak nafas, denyut jantung cepat dan nyeri dada.

2. Pneumotoraks komunikans, yaitu Pneumotoraks yang terjadi karena ada hubungan dengan udara luar atau adanya luka robekan pada dinding dada.

3. Pneumotoraks Ventil terjadi karena Pneumotoraks terjadi terus menerus secara progresif sehingga mendorong mediastinum dan paru-paru sisi yang berlawanan dari sisi yang menglamai Pneumotoraks. Gambaran klinis yang nampak, bisa berupa sesak nafas, nyeri dada, detak jantung cepat, peningkatan vena jugularis, dan sianosis.

Iklan

Alat diagnosa yang umumnya digunakan untuk mendiagnosa Pneumotoraks ialah foto toraks.

Sensitivitas foto toraks anteroposterior dalam mendiagnosa Pneumotoraks adalah sekitar 25-75%, namun foto toraks posteroanterior juga dapat memberikan gambaran Pneumotoraks yang meragukan. Kasus seperti ini, seringkali membutuhkan CT-Scan toraks sebagai alat bantu diagnosa pasti, yang justru akan memperlambat tatalaksana, meningkatkan resiko Pneumotoraks ventil, dan meningkatkan biaya.

Maka dari itu USG (Ultrasonografi) menjadi modalitas radiologi yang lebih cepat, tepat, dan praktis dalam mendiagnosa Pneumotoraks.

Ultrasonografi (USG)
Merupakan salah satu imaging diagnostic (pencintraan diagnostik) untuk pemeriksaan alat-alat tubuh dimana kita bisa mempelajari bentuk, ukuran, anatomis, gerakan, serta hubungan dengan jaringan sekitarnya. Pemeriksaan ini bersifat noninvasif, tidak menimbulkan rasa sakit pada penderita, dapat dilakukan dengan cepat, aman, dan data yang diperoleh mempunyai nilai diagnostik yang tinggi.

Baca Juga  PLN Beri Bantuan Komputer ke SMP Muhammadiyah Sidikalang, Bupati Dairi: Terima Kasih, Turut Mencerdaskan Bangsa

Tidak ada kontraindikasinya, karena pemeriksaan ini sama sekali tidak akan memperburuk penyakit penderita.

Prinsip kerja USG ialah menggunakan gelombang suara yang frekuensinya 1-10MHz (1-10 juta Hz). Gelombang suara ini dihantarkan melalui sebuah probe yang memberikan gambaran struktur organ di dalam tubuh.

Probe phasearray 2-5MHz baik untuk menggambarkan struktur yang lebih dalam seperti atelektasis, efusi pleura dan jantung. Deteksi Pneumotoraks direkomendasikan menggunakan probe frekuensi tinggi (5-10 MHz) karena dapat menampilkan gambaran garis pleura dengan sangat baik. Meskipun demikian, probe manapun dapat dipakai asalkan dapat menampilkan garis pleura.

Untuk pengambilan gambar USG toraks pada kasus gawat darurat, direkomendasikan menggunakan 8 zona (Volpicelli dkk). 8 Zona ini terdiri dari empat zona di masing-masing lapang paru. Zona 1 adalah bagian anterior (depan) atas, zona 2 adalah anterior bawah, zona 3 adalah lateral (samping) atas dan zona 4 adalah lateral basal (bawah) dan.

Pada kasus terduga Pneumotoraks, pemeriksaan dimulai pada sela iga tiga atau empat linea midklavikula (garis tengah yang melalui tulang selangka) pada posisi pasien berbaring atau sela iga dua pada pasien posisi duduk.

Pemeriksaan USG toraks hanya pada zona ini memiliki sensitivitas yang tinggi baik pada pasien kritis maupun stabil. Pada pasien dalam kondisi stabil, pemeriksaan USG toraks.


Gambar 1. Pembagian Zona Pemeriksaan USG Toraks Dikutip dari Bedside Lung Ultrasound In The Assessment of Alveolarinterstitial Syndrome oleh Vopicelli dkk

USG memiliki 3 mode bentuk tampilan eko, yaitu : A-mode, B-mode, dan M-mode. Berbagai mode dapat menghasilkan pencitraan terntentu. Mode yang penting dalam USG toraks adalah brightness mode (B-mode) dan motion mode (M-mode). Brightness mode digunakan untuk deteksi struktur yang diam sedangkan probe yang digunakan bergerak.

Motion mode memperlihatkan struktur yang bergerak dengan probe yang juga bergerak sehingga dapat memperlihatkan ada/tidaknya pergerakan lapisan pleura yang sangat penting dalam diagnosis Pneumotoraks

Gambar 2. (Kiri) Bat wing pencitraan USG toraks normal dengan bayangan dua iga (panah tipis) dan garis pleura tempat terjadinya lung sliding (panah tebal), (Kanan) Pencitraan sejumlah A-lines yang sejajar dengan garis pleura (panah). Dikutip dari Lung Ultrasonography oleh B.Hakimisefat.

Ultrasonografi Pada Toraks Normal
Tanda USG toraks normal ialah adanya bat sign (iga atas, bawah dan garis pleura), lung sliding (gambaran pergeseran pleura parietal dan viseral), A-lines (garis-garis horizontal hiperekoik yang sejajar dengan garis pleura dimana garis ini menujukan paru mengalami aerasi), B-lines (garis vertikal hiperekoik yang muncul dari garis pleura yang menyebar ke ujung bawah monitor tanpa menyebar). B-lines ini dapat berupa garis tunggal atau dalam kelompok yang disebut sebagai lung rockets atau sering juga disebut comet tails.

Baca Juga  Ketua PKK Romy Mariani Ikut Kampanyekan ‘I Love Monday’ Wujud Gerakan Aksi Gizi Di Sekolah

Jenis comet tail lainnya adalah Z-lines, yakni garis hiperekoik namun lebih kecil dari B-lines dan semakin ke distal semakin memudar

Ultrasonografi Pada Pneumotoraks
Pneumotoraks memberi beberapa efek terutama efek dinamik pada USG. Volpicelli dkk dalam international evidence based recommendations for point of care ultrasound merekomendasikan tiga tanda untuk mengeksklusikan Pneumotoraks yakni lung sliding, lung pulse dan B-lines, sedangkan lung point merupakan tanda untuk menginklusikan Pneumotoraks.

Udara dalam rongga pleura jelas akan mengganggu transmisi gelombang suara sehingga lung sliding tidak terlihat dan hanya terlihat pleura parietal saja.

Penelitian retrospektif Litchtenstein dkk terhadap 43 kasus Pneumotoraks menyimpulkan sensitivitas tidak terlihatnya lung sliding untuk mendiagnosis Pneumotoraks adalah 100% dan spesifisitasnya adalah 78%.
Tanda diagnostik yang dianggap paling spesifik untuk diagnosis Pneumotoraks adalah lung point sign (menunjukkan titik batas antara pleura normal yang saling melekat dan pleura yang terpisah oleh udara di dalamnya).

Sensitivitas lung point adalah 79% dan spesifisitasnya adalah 100%. Tanda diagnostik lain adalah lung pulse (gerakan ritmik pleura akibat kontraksi jantung). Bila terlihat tanda ini, maka Pneumotoraks bisa disingkirkan.

Gambar 3. Berbagai gambaran garis vertikal pada USG toraks. (a). B-lines, (b). Lung rockets, (c). Z-lines. Dikutip dari Detection of Pneumothorax with Ultrasound oleh Kline dkk.

Walaupun USG bisa dapat sangat membantu dalam mendiagnosa Pneumotoraks, ada juga beberapa keterbatasan penggunaan USG, yaitu jika adanya emfisema subkutan maupun distensi berlebih alveolar seperti pada pasien dengan ventilasi mekanis karena dapat mengganggu gambaran USG toraks, pasien dengan lemak subkutan yang sangat tebal juga menyulitkan operator untuk mendapatkan USG yang baik, serta bullae yang besar juga dapat memberikan gambaran lung point disertai tidak terlihatnya lung sliding menyerupai Pneumotoraks.

Dalam hal ini maka dibutuhkan keahlian yang baik. Meskipun demikian beberapa laporan kasus melaporkan bahwa USG cukup akurat dalam membedakan antara bullae, bleb dan Pneumotoraks.

USG memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang lebih tinggi, lebih cepat dan rendah radiasi dibandingkan fotot oraks dalam mendiagnosis Pneumotoraks.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Iklan
Back to top button